Lakon Wayang Rizieq, Takfiri dan Agenda Politik Internasional

Belakangan ini suhu politik Indonesia sedang mengalami gejala panas panjang, mulai dari isu dugaan penistaan agama oleh Ahok kemudian memunculkan budaya saling lapor dan yang terjadi pada terbaru “ibu suri” PDIP. Bak lakon sandiwara pewayangan, rentetan permasalahan yang terjadi mengangkat beberapa nama sebagai lakon pro-anta gonis (sudut pandangnya tergantung disisi mana anda berdiri) diantaranya Habib Rizieq Shihab beserta para pendukungnya, Ahok, Jokowi, dan Megawati dan pendukungnya.

A. Habib, Nashab dan Jalan Rahmat

Dalam beberapa pekan terakhir ini kita banyak disajikan tulisan di media sosial yang khusus mengulas tentang sejarah sejarah habib dengan berbagai latar belakang, ulasan seperti yang diulas dalam media Tirto.id cukup memberikan informasi permukaan tentang sejarah apa dan siapa kelompok yang hari ini kita sebut habib. Kenapa permukaan ? Ya karena akar-akarnya belum sempat diulas secara mendalam. Seperti yang telah diulas sebelumnya, habib adalah gelar yang didapat oleh seorang keturunan nabi (Sayyid) ulama dengan kriteria ketat.

Para habib ini memiliki kemuliaan nashab (garis keturunan) Nabi Muhammad SAW dari pernikahan putrinya Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib, dari pernikahan keduanya lahirlah cucu Rasulullah yakni Hasan, Husein dan Zainab. Kemuliaan garis keturunan dari Nabi tidak serta merta mereka hidup aman dan sejahtera, sejak meletusnya perang shiffin antara Ali Bin Bin Abi Thalib dan Muawiyah Bin Abu Sofyan hingga terbunuhnya Sayyidina Husain dan beberapa keturunan Rasulullah di perang Karbala yang hanya menyisakan 2 orang laki-laki yakni Sayyid Zainal Abidin dan sepupunya dari Sayyidina Hasan, jalan hidup keluarga nabi mengalami masa-masa sulit. Sejak berkuasanya Bani Umayyah hingga Abbasiyah, keluarga nabi beberapa kali harus menerima kenyataan terteror oleh kekuasaan. Banyak dari dari mereka hidup sangat sederhana seperti jalan jalan hidup yang di contohkan oleh nabi sekaligus kakek buyut, mereka berdakwah ditengah-tengah umat dibawah pengawasan penguasa pada saat itu. Akibat keadaan tersebut, mereka menyebar dari daratan Mekkah, Hadramaut (Yaman) hingga ke Persia (Iran). Konon dalam sejarah tertulis, garis keturunan nabi yang di Indonesia berasal dari Hadramaut Yaman. Berkah kemuliaan dari garis keturunan nabi bukanlah sesuatu yang dapat digunakan untuk memperoleh berbagai keuntungan, justru dari kemuliaan nashab itulah mereka kemudian mengemban tugas dakwah mulia sesuai dengan jalan dakwah nabi menjadikan islam sebagai penebar sayang dan kasih bagi seluruh alam semesta.

B. Lakon Wayang Rizieq dan FPI.

Dalam pembahasan kali ini, saya mencoba untuk mengupas sepak terjang Habib Rizieq dalam pergolakan politik tanah air. Sepak terjang Habib Rizieq dimulai dari berdirinya FPI (Front Pembela Islam) sebagai ormas pamswakarsa yang dalam beberapa catatan dibentuk oleh beberapa jendral TNI AD termasuk Kivlan Zein untuk mengamankan dominasi TNI AD yang terancam selama pergolakan reformasi penggulingan Orde Baru. Nama Habib Rizieq mulai mencuat sejak sikap kontra terhadap pandangan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan tindak tanduk FPI dalam menjalankan keyakinan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang tidak segan-segan bertindak tegas bahkan dalam pandangan kelompok sekuler disebut tindakan radikal.

Ciri dakwah yang tegas dan terlihat arogan yang diperlihatkan oleh Habib Rizieq dan FPI-nya, ternyata tidak sepenuhnya dapat diterima oleh umat islam terutama bagi mereka yang hidup beragama dalam nuansa damai dan toleransi. Tidak sedikit desakan pembubaran FPI diteriakkan, bahkan tercatat dibeberapa daerah seperti di Surabaya, Temanggung dan beberapa kota di Kalimantan perlawan dan penolakan dilakukan secara terbuka. Jalan dakwah yang mereka pegang teguh tersebut lambat laun, membuat mereka akhirnya tidak banyak mendapat simpati dan bahkan teralienasi. Momen inilah yang ditangkap oleh kelompok salafi wahabi yang kental dengan ideologi takfirinya untuk merangkul Habib Rizieq dan kelompok yang mendukungnya selama ini.

C. Kelompok Takfiri dan Agenda Internasional.

Akhir-akhir ini nama Habib Rizieq kembali mengudara, bermula dari beberapa aksi penolakan terhadap kepemimpinan Ahok sebagai gubernur DKI hingga akhirnya semakin bersinar setelah tampil sebagai pemimpin aksi bela Islam dari jilid satu hingga tiga.

Namun ada yang menarik, bukan tentang sosok Habib tapi orang-orang yang beberapa hari ini kita sering lihat berada di sekeliling beliau, sebut saja nama-nama seperti Ustadz Bahtiar Nasir dan Ustadz Abu Jibril. Siapakah mereka ? Ustadz Bahtiar Nasir adalah seorang ulama yang pernah berkecimpung di kepengurusan Muhammadiyah dan saat ini bagian dari Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) pernah menimba ilmu di Ponpes Gontor dan Madinah Islamic University, sedangkan Ustadz Abu Jibril adalah orang nomor satu dalam kelompok Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) ayah dari Muhammad Jibril pendiri portal Ar-Rahmah.com yang pernah dihukum karena terbukti sebagai penyandang dana pelatihan perang kelompok Jema’ah Islamiyyah di Junto Aceh dan beberapa aksi terorisme di Indonesia.

Kedua tokoh tersebut sama-sama memiliki pandangan politik, yaitu berdirinya Daulah Khilafah Islamiyyah dan entah secara kebetulan atau tidak juga sama-sama memiliki akses kepada kerajaan Arab Saudi. Dalam beberapa kesempatan, Ustadz Abu Jibril beserta kelompok MMI menyatakan dukungan penuh kepada kelompok oposisi Jabhah Al-Nusrah yang dengan dukungan Arab Saudi memiliki kepentingan menggulingkan kekuasan Bashar al-Assad di Suriah. Maka jangan heran jika bendera-bendera MMI numpang tenar dan teriakan Daulah Khilafah berkumandang, bahkan lebih jauh jangan terheran-heran jika mendengar berita tentang rencana kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi yang ingin menemui secara khusus Habib Rizieq Shihab. Ada apa dengan agenda tersebut ? Analisa yang sudah di urai dalam tulisan ini dapat dijadikan pembacaan skema atas upaya mengimpor konflik Timur Tengah ke Indonesia yang menjadi bagian dari skema konflik kepentingan antara negara hegemon di dunia. Kasus Ahok dan kasus sektarian Sunni-Syiah menjadi pintu masuk bagi skema besar tersebut, Habib Rizieq mereka angkat sebagai tokoh “pejuang Islam” hanya untuk menarik dukungan dari kelompok-kelompok yang mewakili Islam tradisional seperti Muhammadiyah dan NU dengan mazhab Ahlussunah Wal Jama’ah.

D. Akhirul Kalam.

Dengan penuh keyakinan, penulis berkesimpulan bahwa kasus Ahok bukanlah tujuan akhir mereka. Jangankan satu Ahok, seribu Ahok dipenjara sekalipun tidak akan memuaskan syahwat politik aktor-aktor penunggang perjuangan ummat tersebut. Ini bukan sekedar tentang penistaan agama atau bahkan PILKADA DKI Jakarta, bahkan bukan pula tentang aksi heroik bela agama yang sering mereka propagandakan. Lebih dari itu, ini tentang agenda politik Internasional berbungkus penegakan khilafah dan syariat Islam. Mereka tidak benar-benar bicara persatuan ummat, karena dibalik indahnya kulit luar mereka juga melakukan hujatan kepada ulama-ulama yang memiliki pandangan berbeda dengan menyebut mereka sebagai ulama su’u (gila duniawi, jabatan, dan dekat kekuasaan). Kondisi politik belum menunjukkan keadaan mereda, sementara ummat dibuat gaduh dan terpecah belah hingga tanpa sadar kita menyusul nasib Irak, Libya, Tunisia dan Suriah, hingga saat itu terjadi maka tidak ada kasih dan sayang tersisa untuk anak-anak yang kehilangan harapan dan keluarga, istri terpisah dengan suaminya dan suami kehilangan istrinya.

Semoga Allah SWT melindungi Indonesia dari kejahatan fitnah, pecah belah dan perang dalam lautan Rahman dan Rahimnya.

29 Januari 2017.
Nanda Pratama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s