Cuplikan Pidato Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj di Pengajian Hikam Lirboyo

Hakikat adalah pondasi, syariat adalah genteng/ atap, tembok adalah akhlaqul karimah. Orang berakhlaq baik belum tentu bertasawuf. Kenceng (rajin tepat waktu) ibadah belum tentu hatinya bertasawuf. Tasawuf adalah ilmu hati, kondisinya dan maqamnya / kedudukan di depan Allah dekat apa jauh.

Hati terbagi menjadi lima, dan yang terluar adalah:

1. Bashirah, mana baik mana buruk, diteruskan,

2. Dhamir / moral, akan mengeluarkan dua kata: Kerjakan atau tidak. Dan ini terbagi menjadi tiga:
a. Moral Ijtima’i/lingkungan, misal: Kalau di depan santri kenceng, kalau tidak ya tidak.
b. Moral Qanuni/legal formal, mis: Saya mau kerja kalau ada gajinya dll.
c. Moral Diniy/agama, seperti Kanjeng Nabi Saw., baik ada uang atau tidak, ada amplop atau tidak, tetep istiqomah.

Cara mengetahui dhamir ini baik atau buruk “istafti qolbak”, tenang baik.

3. Fuad/hakim, tidak pernah bohong, hati murni, walaupun ngomong tidak mencuri tapi hati tetap tidak bisa bohong. Dan kelak yang ditanyai di akhirat adalah fuad. Kalau pertama diingkari, fuad lama-kelamaan akan lemah bersuara dan akan lantang pada kelak hari kiamat.

4. Sirr. (Selingan) Kitab al-Asrar dibawa oleh Syaikh Wasil dan diterjemah oleh Jayabaya menjadi Serat Jayabaya.

5. Lathifah/software, bisa mengakses lauhil mahfudz kalau diizini Allah, makanya Syaikh Athaillah dawuh/berkata, “Gusti Allah tidak mahjub/ terhalang-halangi. Tapi sampeyan yang terhalang-halangi”. Seperti surat teguran Sayyidina Umar ke Sungai Nil.

(Tambahan) Orang pertama yang mendefinisikan Tasawuf adalah Syaikh Ma’ruf al-Karkhi, “Mencari kebenaran dan berpaling dari kepalsuan”. Diteruskan Syaikh Dzun Nun, “Sufi adalah orang yang mendahulukan Allah, dan mengalahkan yang lain”. Lalu, Syaikh Abu Yazid al-Basthami, “Sifat Allah dipakaikan ke (perilaku) panjenengan, itu baru sufi”.

Puncak sufi adalah seperti kata Imam Junaid, “Sufi adalah orang yg tidak pernah ketinggalan zaman (Ibnu Zamanihi), warnanya seperti air, ditempatkan di mana saja tetap mengikuti tempatnya”. Artinya orang sufi adalah orang yang mampu mengikuti semua zaman.

(Ikhtitam) Semoga pengajian tasawuf tetap ada, karena itulah yang bisa menanggulangi Wahabi. Setiap orang pasti punya fase, muda biasanya nakal seperti saya dulu (disambut gerrr oleh peserta), tapi kalau sudah termakan usia akan berubah.
(Lha kalau umur sudah tua malah ikut wahabi, pripun meniko Romo Kyai ?)

Orang yang jadi paling pinter, paling kuat dll dia akan kesepian, kalau spiritualnya tidak ada, akan lelah menjalani kehidupan, bahkan bunuh diri. Beda kalau sufi, semakin ia tinggi maka semakin dekat dengan Allah dan tidak kesepian.

Kisah penutup
Ada seorang pemuda memukul batu seratus kali tapi tidak pecah. Lalu bertemu kiai ndeso yang sudah sangat sepuh, ia berkata, “Coba saya yang pukul.”

“Lho emang bisa Kiai?”

“Coba saja…”

Bruaaaakkkkk… Lima kali pukulan ternyata batu itu pecah. Sang pemuda menjadi sangat heran, “Lhoooo,,,, njenengan ternyata sakti!!!”

“Yaaa enggak!!! Sebab batu itu pecahnya pada pukulan ke seratus lima, saya cuma nambah lima saja.”

Intinya: Jangan pernah putus asa, seberat apapun rintangan, kita jangan putus asa dengan rahmat Allah Ta’ala.

******

Itulah sedikit cuplikan dawuh Mbah Prof. DR. Romo Kyai Said Aqil, tanpa saya tampilkan dalil Qur’an, Hadist, Maqolah Ulama yang keluar dari bibir Beliau, yang dengan luar biasa yang menunjukkan betapa men-samuderanya ilmu Beliau.
(Dari Kiai Robert Azmi al-Nganjuki).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s