SARA Sudah Membara, Pemerintah Harus Bertindak!

Belakangan ini isu SARA semakin sering terdengar. Dimulai dari kasus Ahok yang sebenarnya politis namun dibalut agama hingga berlapis-lapis hingga kasus sweeping tak jelas yang ilegal. Uang baru pun tak luput dari teriakan kaum bersumbu pendek ini. Pahlawan yang jelas-jelas memberikan kita semua sebuah negara merdeka secara cuma-cuma pun dipermasalahkan. Entah pihak sebelah ini memang sudah stress atau pikirannya penuh kebencian.

SARA merupakan jenis gorengan yang paling krenyes. Tidak seperti gorengan rumahan yang lembek setelah satu jam, isu SARA tetap keras dan laku hingga akhir jaman. SARA sudah berkali-kali dipakai dalam sejarah untuk melegitimasi pelanggaran HAM dan biasanya mampu memberikan hasil yang tergolong nikmat bagi pemenang. Hitler membantai kaum Yahudi, Islamphobia di Amerika, Kasus Rohingya di Myanmar, dan pada kasus ini, sweeping ilegal terhadap ornamen Natal.

Apa legitimasi sweeping ini? Undang-Undang? Tentu saja tidak! Pihak ormas garis keras memakai hukum agama yang ditafsir sendiri agar bisa mensweeping secara bebas. Lebih hebatnya lagi mereka merasa bahwa dengan sweeping ini mereka telah melakukan hal baik, tidak peduli dengan kerusakan yang mereka sebabkan. Pihak yang mendekorasi toko mereka dengan ornamen Natal pun harus was-was, karena yang mereka hadapi adalah orang stress, logika waras tidak akan berlaku bagi mereka. Yang penting tidak ada ornamen Natal, titik! Kalau tuntutan mereka tidak dipenuhi bisa-bisa toko malah dirusak, dan menuntut balik mereka pun perlu dana. Serba salah pokoknya.

Meski sudah jelas, kita harus semuanya sadar. Indonesia Merupakan Negara Demokrasi, Bukan Negara Agama. Dasar hukum kita berasal dari Undang-Undang Dasar, bukan hukum agama. Bila tidak terima dengan kenyataan ini maka tidak ada yang melarang untuk pindah ke timur tengah sana. Silahkan pesan tiket pesawat langsung kesana. Pihak radikal terus saja memaksakan ayat-ayat yang mereka tafsirkan sendiri untuk memaksakan kehendak. Ayat yang menjadi polemik Ahok? Ditafsirkan pihak sebelah menjadi pemimpin, meskipun terjemahannya adalah pemimpin agama. Memang hebat mereka, ayat pun bisa diatur-atur artinya.

Semua Hal Bisa Diharamkan Asal Ada Niat

Tahu fenomena ‘om telolet om’? Awal mula fenomena ini berawal dari aksi bocah-bocah tanggung di daerah Jawa Timur dalam memburu bunyi klakson bus yang terdengar ‘telolet’ dan merekamnya dengan telepon seluler. Setelah mendapat suara telolet, mereka lalu memamerkan hasil buruan mereka dengan mengunggah rekamannya ke media sosial, mulai dari Facebook, YouTube dan lainnya. Fenomena ini menjalar hingga ke orang dewasa bahkan mendunia.

Anda tahu apa pihak sebelah yang cocoklogi-nya luar biasa ini? Memfitnah bahwa fenomena yang murni 100% merupakan keisengan anak kecil menjadi suatu konspirasi tersembunyi. Ada yang entah darimana mentranslate kan om telolet om ini menjadi ‘Saya Yahudi’, ada juga yang mengartikan hal ini sebagai ‘Setan adalah segalanya’ Sampai di titik ini penulis bahkan malu, tidak percaya orang-orang seperti ini juga merupakan orang Indonesia. Fitnahnya sudah lebih parah dari tidak masuk akal. Minimal kalau mau fitnah ada kelogisannya sedikit. Kalau seperti ini kenapa tidak sekalian menyatakan bentuk kertas yang persegi juga merupakan konspirasi yahudi??

Pemerintah Sedang Diuji, Tegas atau Mengalah

Untung saja pemerintah sekarang tidak hanya prihatin, namun benar-benar bertidak. Saat ada polisi setempat yang bergerak atas dasar fatwa MUI, Pak Jokowi langsung memanggil Kapolri. Kepolisian sekarang secara tegas melarang sweeping-sweeping tak jelas. Hanya saja pemerintah cenderung pasif, setelah ada kasus lalu ditindak. Idealnya pemerintah harus aktif. Bila ada yang menyebarkan ujaran kebencian langsung diperingatkan, bukan menunggu laporan seperti yang terjadi pada Dwi Estiningsih. Pahlawan dikecilkan, seharusnya polisi langsung bertindak, bukan menunggu laporan. Belum lagi FPI yang sudah terkenal akan kekerasannya. Setelah absen sweeping cukup lama akhirnya mulai kembali berulah karena situasi mendukung.

Disaat inilah pemerintah Indonesia benar-benar diuji. Bukan masalah defisit anggaran, masalah hutang, namun masalah yang akan dihinggapi suatu negara dengan populasi yang sangat beragam. SARA selalu menghantui negara dengan penduduk multiras dan multi agama. Bila Indonesia berhasil melalui situasi SARA sekarang dengan hasil akhir gemilang maka Indonesia bisa tergolong salah satu negara paling toleran di dunia. Namun bila gagal dan pihak garis keras ini yang menang, maka timur tengah akan pindah ke kathulistiwa ini. Indonesia akan kehilangan hak untuk menyatakan dirinya sebagai negara toleran. Semoga saja Natal tahun ini akan berakhir dengan damai dan tenang (23/12/2016).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s