Menuduh Sesat Perlu Pengadilan

Dalam hidup ini selain ada orang yang benar, ada pula orang yang jahat. Orang yang jahat itu kemudian dilaporkan ke polisi untuk selanjutnya diadili di pengadilan oleh hakim. Tidak bisa rakyat main hakim sendiri.

Nanti Hakim selain mendengar laporan dari pelapor juga menanyai terdakwa apa itu benar? Hakim juga memeriksa bukti2nya. Jika perlu bertanya pada saksi Ahli.

Terdakwa berhak membela diri. Jika perlu pakai pengacara. Jika terbukti bersalah dihukum. Jika tidak bersalah dibebaskan. Begitu. Tidak perlu semua rakyat menjadi hakim. Cukup petugas negara yang memang diangkat jadi hakim.

Dalam beragama juga begitu. Tidak semua Muslim berhak memvonis muslim lain sesat/kafir. Bukan begitu. Tidak semua ulama juga berhak. Tapi yang berhak adalah ulama yang memang diangkat negara sebagai Qadhi atau Mufti.

Dalam memvonis sesat/kafir juga tidak sembarangan. Selain mendengar pendapat ulama lain, tabayyun terhadap kaum yang dituduh juga tetap harus dijalankan.

Jadi lucu sekali kalau sekarang banyak orang2 awam karena salah aliran berlagak jadi Qodhi / Mufti yang memvonis si Fulan sesat cuma dengan kabar fitnah dari Media Fitnah Online macam Arrahmah, VoaIslam atau NahiMunkar. Tidak pakai tabayyun lagi. Aliran macam apa itu? Islam tidak begitu.

Pelajari dan yakini 6 Rukun Iman. Pelajari dan amalkan 5 rukun Islam. Perbanyak amal saleh dan zikir. Menuduh muslim sebagai sesat/kafir itu tidak termasuk Rukun Iman dan Rukun Islam. Jadi hati2. Agama itu jangan dibalik2. Pakai akal sedikit. Jangan taqlid buta dan fanatik golongan. Bahaya.

Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)

Baca selengkapnya di: http://media-islam. or. id/…/cara-islam-menegakkan-hukum-dan…/

Harus Tabayyun langsung kepada pihak yang dituduh:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]

Jangan sampai kita memvonis seseorang hanya berdasarkan prasangka buruk / su’u zhon belaka. Karena Su’u Zhon itu dosa:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. ” [Al Hujuraat 12]

Baca selengkapnya di: http://media-islam. or. id/…/jangan-buruk-sangka-menduga-hat…/
Hendaknya juga ada 4 orang saksi yang adil:

“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya)…” [An Nisaa’ 15]

Saksi Palsu atau berbohong adalah dosa besar. Bahkan Nabi sampai menyamakannya dengan dosa syirik. Oleh karena itu membuat seseorang bersaksi palsu baik dengan iming-iming atau pun dengan intimidasi/penyiksaan adalah dosa yang besar.

Salah satu dosa paling besar ialah kesaksian palsu. (HR. Bukhari)

Rasulullah Saw bersabda: “Disejajarkan kesaksian palsu dengan bersyirik kepada Allah. ” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sampai tiga kali. (Mashabih Assunnah).

Mikir! Kata Cak Lontong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s