Belajar Semiotika, Analisis Wacana dan Analisis Framing buat tangkal Firnah Wahabi

Mau tahu proses BIRAHI PENGKAFIRAN –nya kelompok Wahhabi – Salafi?

Mencermati gaya tulisan kelompok Takfiri itu “unik”. Keunikannya terletak pada kesembronoan dalam ber-istidlal (berdalil) dan birahi pengkafiran yang nyaris menjadi kegemaran sehari-hari mereka. Saya bahkan menduga, bagi kelompok ini, fitnah adalah bagian dari tiang agama mereka, Wahabi. Secara garis besar, kelompok Wahhabi-Salafi itu menyusun narasi tulisannya sebagai berikut:

Pertama, susun narasi tentang lawanmu. Kebaikannya tulis beberapa baris saja, beberapa paragrap berikutnya umbar keburukannya, kau bisa gunakan diksi sadistik/ sarkastik untuk menjaring pembaca yang seideologi denganmu. Dalam Analisis Framing, kau perlu menyodorkan diksi tajam yang bakal di-encoding pembaca. Maksudnya? Gunakan kalimat-kalimat tajam untuk mengindoktrinasi pembaca bahwa sosok tersebut benar-benar “setan”, “dajjal”, “kriminal”, “taghut”, “sosok yang najis”.

Selesai? Belum ya akhi….

Agar pembaca semakin muak dengan susunan narasi tentang “dajjal” era baru, dan merasa terancam secara psikis, serta merta munculkan sosok lain yang suci bak malaikat. Gunakan diksi memukau seperti,
“pejuang yang terdzalimi”,
“Mujahid yang merasakan penjara antek amerika”,
“penegak syariah”,
“ustadz yang kenyang merasakan penjara akibat memperjuangkan Islam yang kaffah”, dan kalimat abstrak-sloganistik-bombatis lainnya.

Pembaca yang sedang semangat ” belajar berperang” tanpa didukung olah jurus yang mumpuni dengan haru-biru bakal terindoktrinasi narasimu tanpa sadar, dan menyimpan narasi “setan-malaikat”, “bad cop-good cop”, “pengkhianat-pejuang”, “pengecut-kesatria”, seperti di atas sebagai satu-satunya “Stock of Knowledge” di otaknya. Persis Flasdisk Kosong yang disuplai ribuan file yang sama atau identik!

Kedua, jika benci setengah mati pada Pancasila dan mereka yang berdemokrasi, atau kepada seseorang, biasanya penulis ini akan menggunakan metode “kliping”: cari ayat dalam al-Qur’an yang sesuai prasangkanya, kalau bisa yang tentang siksa+neraka, jika kurang tepat, akan digunakan ayat yang asbabun nuzulnya terkait dengan orang muysrik, kafir, munafiq, lalu dipakai menyerang saudara sesama muslim yang berbeda metode perjuangan atau punya pemikiran berbeda. Ini merupakan metode ringan tapi kurangajar dan sadis karena memenggal ayat maupun hadis dan melepaskannya dari konteks asbabun nuzul (+wurud), dan pendapat mufassir ataupun syarh hadis.

Setelah menggunakan ayat dan hadis untuk kepentingan jangka pendek dalam mendukung opini yang tergesa+gesa untuk menyerang lawan, penulis model begini bakal menggunakan lagi potongan ayat untuk menjustifikasi tokoh yang dipuja. Tentu, ayat yang dipakai adalah ayat yang beraroma surga, tentang mulianya berjihad, mengenai kaum mukminin dlsb. Intinya yang baik & keren. Maklum terkait pencitraan bung! Namanya juga jualan konsep dan promosi tokoh.

Ketiga, gunakan sadisme dan sarkasme kata-kata. Semakin abstrak dan bombastis, pembaca yang semangat bakal menelan mentah-mentah sodoran kata-kata yang benar-benar menjustifikasi, seperti: “Antek Yahudi”, “Agen Zionis”, “Penyembah berhala Garuda”, “Taghut Pancasila”, “Kafir Liberal” dan sebagainya. Ini metode ampuh menggiring pembaca dungu tapi semangat “berjuang” agar menyimpan kata-kata ini dalam benaknya dan memerasnya dalam jiwanya, sehingga bibit-bibit kepala batu tersirami dengan rutin.

Anda tertawa?
Cocokkan yang saya tulis di atas, dengan tulisan tokoh-tokoh Hartono Ahmad Jaiz, Abduh Zulfidar Akaha, Abu Bakar Baasyir, Fauzan Al-Anshari, Aman Abdurrahman, AM Waskito, karya trio Bomber Bali, maupun karya “orang kanan” lainnya.

Silakan cek pula di Majalah Sabili, Majalah al-Wa’ie, buletin al-Islam, web arrahmah.com., voa-islam., nahimunkar.co, alkhilafah.co., kompasislam.com hingga fanspage yang menjadi corong sekte Wahhabi-Takfiri, dlsb.

Monggo kita semua belajar Semiotika, Analisis Wacana dan Analisis Framing, biar nggak menjadi DOMBA-DOMBA GEMUK YANG DIGIRING DENGAN LEMBUT KE TANGAN JAGAL!
—-
Salam,
Syaikh Abu Gosoq Alkoholi Aluminiumi Alpukati Alphard-i Alkenthiry…
(Mursyid Thariqah Insomniyyah)

penulis : gus rijal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s