Kagak Pantas Masuk Surga

Dahulu Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa tidak ada seorang pun bisa masuk surga, kecuali semata-mata karena rahmat Allah.

Memang benar. Kita sama sekali tidak pantas masuk surga. Saya juga Anda. Kita semua… Mari coba kita urai penilaian Nabi Muhammad SAW tersebut dengan pikiran jernih.

Semisal Anda itu rajin shalat 5 waktu, one day one juz, rutin sedekah satu juta rupiah per bulan, dan pernah naik haji, jangan pernah berpikir Anda sudah layak masuk surga. Serius. Sebab amalan-amalan Anda itu tidak istimewa.

Menjadi tidak istimewa, kalau Anda bertanyanya ke hati nurani. Jangan ke setan di dalam hati Anda. Pasti isinya dipuji-puji, “Hebat! Sudah shaleh! Wah ahli surga ini!” Pasti setan bisikannya adalah pujian. Karena ingin Anda mabuk kepayang. Karena ingin Anda merasa tidak perlu meningkatkan ibadah. Juga karena ingin Anda segera menjadi sombong dan menyombongi orang lain yang tidak rajin ibadah.

Coba pelan-pelan tanya ke hati nurani. Rajin shalat 5 waktu itu tidak istimewa, kalau kita mau memperbandingkannya dengan jumlah dosa sehari. 5 : 2 kah? 5 : 10 kah? Atau jangan-jangan dalam sehari kita berbuat dosa 30 kali (waktu)?

One day one juz juga tidak istimewa, kalau kita mau memperbandingkannya dengan jumlah jam dalam sehari. Kalau misalnya Anda butuh waktu 3 jam untuk satu juz, berarti sisanya masih ada berapa jam? Anda gunakan apa saja?

Rutin sedekah satu juta rupiah per bulan pun tidak istimewa. Apa hebatnya? Cobalah tanya ke akal yang jernih. Satu juta rupiah menjadi terasa sangat sedikit, kalau Anda mau jujur memperbandingkannya dengan “biaya kemewahan” hidup Anda. Coba bandingkan dengan biaya makan Anda, biaya belanja barang Anda, harga mobil Anda, dan harga rumah Anda.

Contoh kasus terakhir, pernah naik haji. Jujur itu cuma masalah kesempatan saja. Anda yakin mampu naik haji kalau diberi “kesempatan” oleh Allah jadi tukang tambal ban? Anda yakin mampu rutin menabung sedikit demi sedikit selama 30 tahun? Anda yakin mampu puasa hawa nafsu selama 30 tahun demi naik haji?

Jadi, maksud saya, kalau diurut-urut dan ditelaah satu per satu, aslinya kita semua tidak pantas masuk surga. Sekalipun sudah ahli ibadah. Sekalipun sudah menumpuk amal kebaikan sepanjang hayat. Sama sekali tidak pantas.

Amal baik kita masih sangat sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan amal buruk kita dan tingkat ke-mubazir-an hidup kita. Silakan coba hitung sendiri dengan jujur. Seperti empat contoh kasus amal baik yang akhir-akhir ini dikira masyarakat muslim Indonesia adalah “luar biasa” tadi. Silakan coba.

Maka dari itu, benarlah sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa kita jangan merasa bisa masuk surga dengan kendaraan amal baik. Luar biasa tidak pantas. Kita hanya bisa masuk surga dengan kendaraan rahmat Allah saja. Selain itu, mustahil bisa masuk.

Kalau kita tidak dimaklumi dan disayangi Allah, saya juga Anda mustahil boleh masuk surga. Maka, mari kita rendah hati dalam beragama, jangan pernah sombong. Kalau kita itu rajin beribadah, ya sudah titik. Ibadah, titik. Ibadah, titik. Tidak usah pamer. Tidak usah merasa sholeh.

Sifat sombong itu selendangNya. Jangan dipakai manusia. Tidak pantas. Selain menimbulkan kemarahan Allah, sifat sombong akan amal baik pada diri seseorang menimbulkan penyakit hati suka melaknati orang lain. Padahal rahmat Allah hanya bisa turun pada hati orang yang penuh rahmat.

Rajin-rajinlah beribadah, tapi jangan sampai menggantungkan diri pada amal shalih.

— with Mamduhah Khazeen, Dinny Kurnia, Herry Novri and 32 others. [Nasehat Jum’at]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s