Api Kebencian dan Dendam Bani Umayyah pada Bani Hasyim

Membela sang durjana menghujat sang mulia.

Sebagai bentuk kecintaanku kepada keluarga Rasulullah saww sebagaimana diperintahkan allah swt dalam al-qur’an:
”katakanlah ( Muhammad ) aku tidak meminta upah atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluargaku”
(qs 42:23 ).

Aku memberi nama anak-anakku nama-nama ahlul-bait.

Anak pertama kuberi nama ”Muhammad” anak ke-2 ”fatimah” dan anak ke-3 ”ali” sebaliknya aku tidak habis pikir ketika tetanggaku seorang pengikut jama’ah yang menamakan diri ”salafi” (aku lebih suka menganggapnya sebagai wahaby 1 sekte yang didirikan oleh orang Yahudi untuk menghancurkan islam secara diam-diam).

Mereka telah menghancurkan semua situs sejarah islam termasuk rumah Rasulullah saww dan nyaris saja menghancurkan makam nabi Muhammad saww kalau tidak diprotes keras oleh ummat islam dari seluruh dunia termasuk dari indonesia.

Sekte ini sekarang memegang kekuasaan diarab saudi dan menjadi sekte resminya kerajaan saudi menamakan anaknya dengan nama ”yazid” tidakkah dia tidak tahu bahwa yazid bin muawiyah adalah nama seorang durjana yang telah membunuh husein bin ali as cucu kesayangan Rasulullah saww dikarbala?

Tidakkah dia juga tidak tahu kalau Yazid bin muawiyah pula yang bertanggung-jawab dalam tragedi Hurrah yaitu penyerbuan yang disertai penjarahan pembunuhan dan pemerkosaan masal terhadap 2 kota suci mekkah dan madinah?

Pernah saya memancing pembicaraan dengannya tentang yazid bin muawiyah.

Saya utarakan apa yang saya ketahui mengenai sosok yazid bin muawiyah.

Dengan gigih dia membela Yazid bin muawiyah sebagai sosok yang ”alim” menurutnya yazid bin muawiyah tidak bersalah dalam peristiwa pembunuhan husein bin ali as karena yang membunuh adalah bawahannya tanpa sepengetahuan dirinya.

Sedangkan mengenai tragedi hurrah dia menolak peristiwa itu pernah terjadi meski peristiwa itu tertulis dalam buku-buku sejarah klasik islam.

Masya allah seorang durjana terbesar dalam sejarah ummat islam masih tetap dibela oleh orang yang mengaku islam.

Memang sebagai seorang raja yazid bin muawiyah tidak perlu repot-repot menghunuskan pedang untuk membunuh lawan-lawan politiknya.

Hanya moron ( lebih bodoh dari idiot ) yang percaya hal seperti itu.

Tapi peristiwa pembunuhan husein bin ali as mutlak menjadi tanggung-jawab yazid bin muawiyah hatta jika dia tidak memerintahkan pembunuhan itu.

Diamnya dia terhadap pembunuh husein bin ali as telah membuktikan keterlibatannya dalam peristiwa itu.

Apalagi jika memang dialah yang menjadi dalang pembunuhan itu sebagaimana banyak ditulis oleh buku-buku sejarah.

Bagaimana kita tidak percaya yazid bin muawiyah melakukan tindakan keji memerintahkan pembunuhan husein bin ali as dengan memenggal kepalanya mengarak kepala jenazah dari irak ke damaskus dan memukuli wajah husein bin ali as dengan tongkat dihadapan orang-orang?

Neneknya hindun bahkan telah melakukan tindakan yang tidak kalah keji memakan jantung hamzah bin abdul muthalib yang tidak lain adalah kakek husein bin ali as dan paman Rasulullah saww.

Semua tindakan keji kepada keluarga Rasulullah saww itu tidak lain adalah dilandasi oleh dendam keluarga yang telah diwarisi selama puluhan tahun yang menghinggapi keluarga bani umayyah.

Orang akan sulit menerima alasan dendam keluarga bisa membuat seseorang berlaku keji bahkan kepada keluarga Rasulullah saww yang disucikan allah swt jika tidak memahami adat dan budaya bangsa arab dimasa lalu.

Bangsa arab adalah bangsa nomaden kecuali beberapa kabilah yang tinggal dikota-kota seperti mekkah madinah dan thaif.

Di antara kabilah-kabilah tersebut tidak ada seorang penguasa yang menjadi kepala pemerintahan sementara bangsa-bangsa beradab lain disekitar arab tidak terlalu perduli dengan keberadaan bangsa ini karena kondisi geografis sosial dan ekonomi bangsa arab yang tidak menarik untuk dikuasai.

Hukum yang berlaku diantara bangsa arab adalah hukum rimba.

Seorang bangsawan sebuah kabilah dalam sekejab bisa menjadi budak setelah kafilahnya dirampok oleh kabilah-kabilah nomad.

Menghadapi kondisi seperti itu orang-orang arab secara ilmiah melakukan ”pertahanan diri” dengan memupuk rasa persatuan berdasarkan kabilah atau keluarga sehingga jika 1 orang anggota kabilah mendapat serangan seluruh anggota kabilah akan membelanya mati-matian.

Hal ini membuat warga dari kabilah lain berpikir 2x untuk melakukan sebuah tindakan agresif.

Pada masa-masa sebelum kelahiran Rasulullah saww kota mekkah telah diwarnai dengan persaingan diam-diam antara kabilah bani muthalib / hasyim dengan bani umayyah.

Persaingan ini berkaitan dengan jabatan kehormatan yang disandang oleh pemimpin kabilah yang diangkat menjadi penjaga ka’bah.

Selama berpuluh tahun jabatan ini dipegang oleh pemuka kabilah bani muthalib / hasyim yang memang dikenal sebagai keluarga yang jujur bersahaja namun tegas.

Sementara bani umayyah yang lebih pragmatis menguasai perekonomian melalui beberapa anggota keluarganya yang sukses menjadi pedagang seperti abu sofyan dan utsman bin affan.

Ada 1 kisah menarik mengenai oportunisme dan pragmatisme abu sofyan dan itu mungkin yang mendasari dia dan keluarganya termasuk istrinya hindun putranya muawiyah bin abu sofyan dan cucunya yazid bin muawiyah masuk islam setelah tidak ada pilihan lain menyusul jatuhnya kota mekkah ke tangan islam.

Pasca perang hunain dimana pasukan islam mendapatkan harta rampasan perang yang melimpah abu sofyan mendapat bagian ekor unta.

Tanpa malu-malu dia meminta bagian untuk anaknya muawiyah bin abu sofyan.

Nabi saww pun menambahnya dengan 100 ekor unta lagi.

Namun itu pun masih kurang.

Dia meminta tambahan lagi untuk cucunya yazid bin muawiyah.

Permintaan ini pun dikabulkan Rasulullah saww.

Persaingan antara keluarga Bani Muthalib / Hasyim dengan bani Umayyah tersebut semakin keras setelah kedatangan Rasulullah saww dengan agama barunya islam.

Keluarga bani umayyah dikenal sebagai penentang utama Rasulullah saww sementara keluarga bani muthalib / hasyim menjadi pelindung Rasulullah saww.

Meski terdapat beberapa pengecualian seperti utsman bin affan yang menjadi pendukung Rasulullah saww dan abu lahab paman Rasulullah saww yang justru memusuhi Rasulullah saww namun secara umum ke-2 keluarga memiliki sikap yang bertentangan dalam hal penyiaran islam.

Permusuhan berdasarkan sentimen keluarga tersebut begitu hebatnya mengalahkan ikatan-ikatan lainnya.

Perlu diketahui bahwa Rasulullah saww adalah menantu dari abu sofyan.

Namun kebencian keluarga membuat ikatan perkawinan seolah menjadi tanpa arti.

Abu sofyan memerintahkan putrinya ummu habibah untuk bercerai dengan Rasulullah saww namun ummu habibah tetap memilih menjadi istri Rasulullah saww.

Rasulullah saww dan Ali bin Abu Thalib as sebagaimana kita ketahui adalah anggota kabilah Bani Muthalib / Hasyim. Sementara, muawiyah bin abu sofyan serta yazid bin muawiyah adalah anggota kabilah bani umayyah.

Persaingan tersebut semakin massif setelah ummat islam mengangkat senjata melawan orang-orang kafir quraisy dari mekkah.

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi antara keduanya bani umayyah dengan abu sofyan sebagai pemimpinnya selalu menjadi tulang punggung pasukan orang-orang quraisy.

Sementara bani muthalib / hasyim dengan ikonnya Hamzah Bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abu Thalib as tampil sebagai pelindung Rasulullah saww yang paling tangguh.

Fenomena seperti itu tampak jelas dalam drama Perang Badar.

Ketika perang akan dimulai dan pasukan islam dan kafir quraisy sudah berhadap-hadapan 3 orang quraisy tampil ke muka dan menentang duel.

Ketika 3 orang anshar ( penduduk asli madinah ) tampil ke muka untuk melayani tantangan orang-orang quraisy.

Ke-3 orang quraisy tersebut menolak dan meminta Rasulullah saww mengirimkan 3 orang anggota keluarganya untuk melayani tantangan mereka.

Maka Rasulullah memerintahkan 3 kerabatnya Hamzah bin abdul muthalib, Ali bin Abu Thalib as dan Abu Ubaidah untuk berperang tanding.

Dan perang Badar menjadi ladang pembantaian pertama bani Umayyah oleh Bani Muthalib / Hasyim yang menimbulkan bara api dendam yang hebat.

Dan diantara anggota Bani muthalib / Hasyim, maka Sayyidina Ali bin Abu Thalib as adalah orang yang paling banyak membunuh anggota bani umayyah.

Ironisnya selain membela sang durjana yazid bin muawiyah maupun ayahnya muawiyah bin abu sofyan yang telah memberontak kepada khalifah Ali bin Abu Thalib as yang sah dan dikutuk Rasulullah saww sebagai orang yang tidak pernah bisa kenyang perutnya.

Sebagian ummat Islam dengan gigih mengkafirkan Abu Thalib.

Padahal Dia adalah paman Rasulullah saww yang telah membela Rasulullah saww dengan nyawanya sehingga memungkinkan Rasulullah saww melaksanakan dakwahnya dan islam berkembang diantara penduduk mekkah.

Tidak ada orang yang lebih berjasa membela islam selain Abu Thalib.

Pembelaannya kepada Muhammad saww sudah menjadi bukti kuat bahwa Abu Thalib telah beriman kepada islam.

Bahkan berdasarkan banyak riwayat Abu Thalib telah beriman kepada kerasulan Muhammad saww saat Rasulullah saww belum resmi diangkat menjadi nabi.

Riwayat itu menyebutkan ketika Abu Thalib dan Rasulullah saww melakukan perjalanan dagang ke syiriah mereka berjumpa dengan seorang pendeta nasrani yang melihat tanda-tanda kenabian Rasulullah saww berdasarkan kitab suci yang dianutnya.

Saat itu sang pendeta memberitahukan tentang kenabian Rasulullah saww menyarankan kepada Abu Thalib untuk melindunginya terhadap orang-orang musrik dan orang-orang yahudi.

Abu Thalib yang telah melihat keistimewaan akhlak Rasulullah saww sejak kecil percaya sepenuhnya dengan ramalan pendeta nasrani tersebut dan berjanji akan melindungi Rasulullah saww dengan nyawanya.

Janji itu ditepatinya hingga dia meninggal dunia.

Tidak ada alasan lain yang membuat Abu Thalib mengambil keputusan untuk membela Rasulullah saww dengan taruhan nyawanya kalau bukan karena keimanan yang kuat.

Jika tidak dia akan seperti abu lahab yang justru memusuhi Rasulullah saww atau abbas bin abdul muthalib yang lepas tangan terhadap nasib Rasulullah saww.

Apa kita berani mempertaruhkan hak kita atas syurga dengan membuat tuduhan kafir terhadap Abu Thalib?

Atas dasar apa kita berani mengkafirkan orang yang paling berjasa terhadap islam?

Berdasarkan riwayat-riwayat hadits?

Atau karena Abu Thalib tidak shalat dan tidak berjihad?

Dan kalau pun Abu Thalib juga berkompromi dengan orang-orang musrik quraisy dalam hal ibadah dan mu’amalah bukankah hal itu diperbolehkan dalam kondisi ummat islam yang masih lemah?

Bahkan bagi orang-orang muslim yang terancam allah swt mengizinkan mereka untuk mengikrarkan kekafiran selama hati mereka tetap beriman sebagaimana dilakukan ammar bin yasir budak keluarga abu sofyan.

Ammar bin yasir yang tidak tahan dengan siksaan keluarga abu sofyan akhirnya ”pura-pura” keluar dari islam demi menyelamatkan nyawanya.

Ketika ammar bin yasir mengadu kepada Rasulullah saww maka Rasulullah saww mendoakan ammar bin yasir dan kemudian turunlah ayat yang membolehkan orang bersiyasah dengan pura-pura murtad dan hatinya tetap islam.

Namun tidak demikian nasib ke-2 orang tua dan saudara ammar bin yasir.

Mereka meninggal secara mengenaskan karena siksaan keluarga abu sofyan.

Mengenai alasan terakhir saya jelaskan bahwa saat Abu Thalib meninggal belum ada perintah untuk shalat apalagi berjihad.

Perintah shalat diberikan setelah nabi saww menjalani isra mi’raj yang terjadi setelah kematian Abu Thalib.

Sedangkan perintah berjihad terjadi jauh setelah kematian Abu Thalib yaitu setelah ummat islam berhijrah ke madinah.

Pada saat itu bahkan Rasulullah saww hanya bisa membujuk pengikutnya yang mendapat siksaan hebat dari orang-orang musrik quraisy untuk bersabar.

Ada pun mengenai hadits perlu diketahui bahwa kumpulan hadits yang dibuat oleh para ulama ahli hadits terjadi 3 abad setelah kematian Rasulullah saww.

Di antara selang waktu itu telah muncul puluhan ribu hadits palsu yang beredar luas ditengah-tengah ummat islam.

Para ulama hadits memang telah bekerja keras untuk menyaring hadits-hadits itu namun biasa tetap saja terjadi.

Apalagi karena adanya faktor politis dimana penguasa memaksakan hadits-hadits yang ditulis agar sesuai dengan keinginannya.

Dan hadits pengkafiran Abu Thalib tentu sangat disukai penguasa yang memusuhi ahlul-bait as karena dengan demikian mendelegitimasi klaim ahlul-bait as.

Para ahlul-bait as adalah keturunan Ali bin Abu Thalib as dan putri Rasulullah saww fatimah az-zahra as.

Dengan kafirnya Abu Thalib yang merupakan ayah Ali bin Abu Thalib as maka kedudukan Ali bin Abu Thalib as menjadi agak lemah dimata ummat.

Catatan:
berikut ini adalah contoh kesalahan yang terdapat pada kitab shahih bukhari muslim kita yang oleh ummat islam sunni legitimasinya dianggap hanya kalah oleh al-qur’an.

Kitab-kitab hadits Standar Sunni dalam Bahaya posted on juni 20 2009.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s