Namaku Izrail

Dialog dengan malaikat maut as.

Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan para malaikat syetan, iblis, pohon, binatang dan makhluk bernyawa lainnya.

Maka dia yang bernyawa pastilah akan gemetar melihat kedatanganku.

Sebenarnya ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad makhluk bernyawa.

Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu amal-amal kamu dan kelakuan kamu.

Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari tubuh manusia?

Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun kepala.

Kamu sering kan menyedot minuman dari dalam botol?

Persis seperti itulah aku menarik ruh manusia dari tubuhnya.

Saat itu aku lakukan seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki sedikit demi sedikit akan mati.

Maka jemari kakilah yang akan mengalami kematian pertama kali baru kemudian bergerak ke telapak kaki tungkai kemudian ke betis lalu paha dan seterusnya.

Pada keadaan ruh aku tarik ujung-ujung kaki akan mengejang kaku.

Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa bertanda ruh sudah melalui bagian itu.

Maka berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.

Bagaimana rasanya?

Susah aku gambarkan karena aku cuma melihat saja kan aku yang mencabut nyawa.

Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang aku cabut nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu.

Jadi aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya ketika ruh aku tarik dari jasad manusia.

Tapi baiklah dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa aku simpulkan demikian.

Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu yang menempel disetiap atom tubuhmu sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf otot pembuluh darah persendian rambut kulit kepala kulit yang membungkus tubuhmu dan semua bagian tubuhmu aku tarik-tarik aku betot-betot dengan keras.

Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia maka semakin enggan semakin sakitlah rasanya.

Kalau tidak percaya coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras.

Sakit ’kan?

Kamu pernah kan mengalami luka disayat?

Perih?

Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang aku cabut ruhnya.

Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa.

Kalau sayatan luka kan cuma terjadi disekitar luka saja itu pun sakitnya sudah luar biasa dan terasa dibagian tubuh lainnya.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat.

Jangan heran kalau manusia akan berkeringat menjerit melolong-lolong meraung-raung dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik keluar dari kepompong tubuhnya.

Manusia akan terkuras tenaganya akibat kelelahannya dia bahkan tidak lagi dapat bernafas, dia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian ketamakan, kemaksiatan dan kejahilan lainnya.

Namun demikian apabila tubuh kuat suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda.

Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya.

Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh.

Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu.

Ruh dan jasad menjadi melekat keduanya tidak akan terpisah kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.

Ketahuilah kesukaanmu akan syahwat nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu.

Kenapa demikian?

Ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat.

Di katakan bahwa tubuhmu menyimpan energi dalam yang berlebihan sehingga sering kali energi berlebihan ini melonjak lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu.

Kromosom-kromosommu akan terganggu kode-kodenya yang asli akan jungkir balik bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker jantung atau pikun.

Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu.

Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan jasadmu.

Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun suara akan berangsur hilang dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.

Sakitnya penarikan ruh memang menggetarkan siapa pun juga jangankan manusia biasa para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang.

Karena alasan itulah seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul Muhammad saww memohon kepada Allah swt agar membebaskan Nabi saww dari penderitaan dan kepedihan kematian.

Nabi saww pun sudah mengingatkan:
”perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan yakni kematian”

Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang.

Kata mereka:
”Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan bertobatlah kepada Allah swt dari kelalaian dan segala yang lezat sesungguhnya kematian sangatlah dekat ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat jangan merasa senang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat”

Dalam al-Qur’an Allah swt menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman dengan gambaran berikut:
”dan bertaut betis ( kiri ) dengan betis ( kanan )”
( Q.S. 75 : 29 ).

Yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakaratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah swt.

Allah swt menyebut keadaan tersebut dengan ”sakrah” karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya sehingga biasanya kesadarannya hilang.

Allah swt berfirman:
”dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya itulah yang kalian selalu lari dari padanya”
( Q.S. 50 : 19 ).

Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian memang bermacam-macam sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan.

Kamu mungkin dapat menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini.

Imam hasan bin ali as pernah mendengar sabda kakeknya ( Nabi saww ) yang mulia yang mengatakan padanya:
”pedihnya kematian setara dengan luka-luka 300x tusukan pedang”

Imam ali bin abu thalib as bahkan menyebutkan setara dengan 1000x pukulan pedang.

Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sakitnya?

Jangankan dipukul pedang luka tergores silet saja bisa membuat manusia mengaduh-ngaduh tidak karuan apalagi dipukul-pukul 1.000x dengan pedang.

Gambaran lain menyebutkan kalau pedihnya kematian itu lebih tajam dari gigi gergaji lebih tajam dari mata gunting lebih menyakitkan dari pada dipanggang diatas kawah panas gunung berapi.

Makanya ada pepatah yang mengatakan:
”maut lebih menyakitkan dari pada tusukan pedang gergaji atau sayatan gunting”

Para nabi dan rasul pun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya ketika aku datang.

Di kisahkan ketika nabi musa as meninggal dunia dan ditanya Allah swt bagaimana rasa sakitnya kematian yang dia rasakan dia menjawab bahwa kejadian itu seperti se’ekor burung yang dipanggang hidup-hidup tapi nyawanya tidak juga lepas dan dia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri.

Nabi musa as juga menggambarkan peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.

Ketika Nabi saww akan meninggalkan dunia fana ini ada secangkir air penuh tergeletak didekat Nabi saww.

Nabi saww mencelupkan tangannya ke dalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan membasuh wajahnya.

Nabi saww berdoa kepada Allah swt supaya dibebaskan dari sakaratul maut.

Itulah sekelumit gambaran bagaimana aku melakukan tugas pencabutan ruh dari tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya.

Perlu kamu ketahui juga kalau pengaruh pencabutan ruh atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut dari jasadmu namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai ke liang lahat.

Akan aku ceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini.

Pernah sekelompok orang datang ke kuburan dan berdoa kepada Allah swt untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal.

Maksud mereka adalah ingin mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi.

Atas izin Allah swt si mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali dia berkata:
”aku meninggal 50 tahun yang lalu namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari hatiku”

Bayangkan rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang begitu saja namun terasakan hingga puluhan tahun.

Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai sakaratul maut.

Dalam keadaan sakaratul maut setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui penderitaan demi penderitaan akan dirasakan sakit demi sakit akan mengingatkan manusia pada semua perbuatannya dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya mencapai kerongkongannya.

Pada titik kritis ini berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada didalamnya.

Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka.

Saat itu simetri keghaiban pun terkuak dihadapannya pemandangan alam akhirat pun muncul begitu saja.

Pintu tobat pun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan penyesalan.

Dia mungkin akan teringat sabda Rasulullah saww:
”tobat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakaratul maut ( yaitu sampainya nyawa di kerongkongannya )”

Maka semakin menyesAllah dia tapi semua itu terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata maka saat itu jangan pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakaratul maut tiba.

Pendek kata karena kengerian tentang kedatanganku maka Rasulullah saww pernah bersabda tentang aku dengan sabdanya Rasulullah saww sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia katanya:
”kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya”
”tidak seorang pun penghuni rumah kecuali ada malaikat maut as yang memperhatikan mereka 2x sehari”
”orang yang didapati ajalnya telah habis maka dia cabut nyawanya”
”bila keluarganya menangis sedih dia bertanya mengapa kalian menangis dan mengapa kalian bersedih?”
”demi Allah aku tidak mengurangi umur kalian tidak pula mengekang rezeki kalian dan aku pun tidak berdosa”
”sesungguhnya aku benar-benar akan kembali kepada kalian ( yang masih hidup saat itu ) kemudian kembali dan kemudian kembali sehingga aku tidak menyisakan seorang pun dari kalian”

Demikianlah aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar, dia yang saatnya sudah ditentukan maka dia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya rasa sakitnya dan kengeriannya.

Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut nyawa manusia.

Namun percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena keluarbiasaan sakaratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti kecuali oleh orang yang merasakannya sendiri.

Tahukah kamu bahwa pencabutan nyawa termasuk kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang aku cabut nyawanya, jadi orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda.

Tapi begitulah kematian, dia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian karena kematian termasuk keadaan ruhani maka menjadi jelas bahwa keadaan ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati.

Orang lain cuma bisa mengira-ngira saja dengan menganalogikannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah dialaminya atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang nyawa.

Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak bernyawa tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.

Akan aku perjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian.

Gambarkan saja satu bagian dirimu terbakar api maka rasa sakit yang dialami akan menjalar ke seluruh tubuh dan jiwa dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa maka sebesar itu pula kadar yang dialami oleh seseorang akan tetapi rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh tubuh sehingga bagi yang sedang sekarat maka dia merasakan dirinya ditarik-tarik dibetot dan dicerabut dari setiap sel urat nadi syaraf persendian dari setiap akar rambut yang tumbuh dibadannya dan kulit kepala hingga kaki.

Jadi jangan kamu tanyakan lagi bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput oleh aku maka perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan dengan kematian apakah itu kematian salah 1 keluargamu tetanggamu atau teman-temanmu.

Perhatikan bagaimanakah keadaannya gunakan pengalamanmu dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu bahwa tak ada yang abadi semua pasti akan mati.

Di kutip dari kisah Namaku Izrail.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s