Kerancuan Cara Berfikir Salafy Wahabi

Pembahasan tentang cara-cara dan pemikiran yang benar dan bertanggung jawab adalah sesuatu bahasan yang sulit. Tahapan ini adalah tahapan yang sulit, meski pun pembahasan yang saya bahas bersifat spontan. Sepanjang kehidupan saya, saya sering bertanya, berdiskusi dan lain sebagainya, dan tidak ada waktu yang kosong dari pembahasan.

Setelah serangan keras yang dilancarkan oleh kaum Wahabi ter­hadap Sudan, dan pengintensifan diskusi dan dialog, serta semakin berkembangnya pergerakan agama, mulailah tersingkap banyak kebenaran,dan semakin jelas berbagai perselisihan dan pertentangan sejarah, keyakinan dan fikih. Kemudian mulailah upaya-upaya pengkafiran terhadap beberapa kelompok dan keluar mereka dari tali ikatan Islam, yang mendorong kepada terbentuknya mazhab-mazhab yang berbeda.

Meskipun pahit apa yang telah terjadi, namun minat saya untuk melakukan pembahasan malah semakin bertambah, dan saya merasakan realitas pertanyaan-pertanyaan spontan yang selama ini menggangu benak saya.

Besarnya perhatian saya kepada ajaran wahabi dikarenakan diskusi-diskusi dan seminar-seminar yang mereka laksanakan telah menarik perhatian saya. Hal terpenting yang saya pelajari dari mereka ialah keberanian menentang ajaran yang ada. Saya pernah meyakini bahwa ajaran adalah sesuatu yang sakral, yang tidak dapat diserang dan dikritik, meskipun saya banyak memberikan catatan terhadap kenyataan yang ada, yang didasari oleh pertimbangan nurani dan fitrah saya.

Saya terus berjalan bersama mereka, dan banyak sekali diskusi yang terjadi diantara saya dan mereka, yang pada kenyataannya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membingungkan benak saya. Saya memperoleh jawaban yang memuaskan bagi sebagian pertanyaan saya, sementara jawaban sebagian yang lain tidak dapat saya temukan pada mereka. Hal ini menjadi jaminan bagi saya untuk bersimpati dan membantu mereka, namun dengan tetap disertai beberapa catatan yang merintangi saya untuk berpegang secara penuh kepada ajaran wahabi. Yang pertama dan yang terpenting dari itu ialah saya tidak menemukan di sisi mereka apa yang dapat memenuhi cita-cita risalah saya. Kadang-kadang, rasa was-was menghinggapi diri saya dengan mengatakan, sesungguhnya apa yang engkau pikirkan dan yang engkau cari adalah sesuatu yang utopis yang tidak ada kenyata­annya, dan ajaran wahabi adalah ajaran yang paling dekat dengan Islam yang tidak ada tandingannya.

Saya berjalan mengikuti rasa was-was ini dan sekaligus membenarkannya, disebabkan ketidaktahuan saya terhadap pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang lain. Namun, dengan cepat saya sadar bahwa apa yang dilakukan oleh Jamaluddin tidak mungkin merupakan pemikiran wahabi. Saya pernah berteriak lantang, “Sesungguhnya ajaran wahabi adalah jalan yang paling dekat kepada Islam — disebabkan mereka mengemukakan dalil-dalil dan nas-nas yang membenarkan mazhab mereka, yang tidak saya temukan pada kelompok-kelompok lain di Sudan namun kesulitan mereka ialah bahwa mazhab yang mereka bangun tidak ubahnya seperti rumus-rumus matematika. Yaitu berupa kaidah-kaidah yang kaku, yang tanpa memiliki refleksi peradaban yang jelas dalam kehidupan manusia, juga dalam menghadapi berbagai macam tataran kehidupan. Baik dalam tataran individu, tataran sosial, tataran ekonomi atau tataran politik, dan bahkan di dalam tata cara berhubungan dengan Allah SWT. Bahkan sebaliknya, ajaran ini menjadikan manusia menjadi liar dan terasing dari masyarakat, dan sekaligus memberikan surat jaminan untuk mengkafirkan kelompok masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka. Setiap orang dari mereka tidak bisa hidup bersama dengan masyarakat. Dia selalu membedakan diri dari masyarakat dengan pakaian dan tingkah lakunya. Seluruh sisi kehidupannya tidak sejalan kecuali dengan teman-temannya. Saya merasakan kesombongan dan keangkuhan dari mereka. Mereka memandang manusia mempunyai kedudukan yang tinggi, namun dalam kehidupannya mereka tidak mau bekerja sama dan membaur dengan masyarakat.

Bagaimana mungkin mereka dapat bekerja sama dengan masya­rakat?! Sementara seluruh yang dilakukan masyarakat adalah bid’ah dan sesat dalam pandangan mereka.

Saya masih ingat benar manakala bantuan wahabi masuk ke desa kami, dalam jangka waktu yang tidak berapa lama, dengan tanpa didasari pengkajian dan kesadaran, sekelompok besar dari para pemuda ikut bergabung ke dalam barisan wahabi, namun tidak berapa lama kemudian mereka semua keluar dari barisan tersebut. Menurut perkiraan saya ini disebabkan karena mazhab baru ini melarang mereka berbaur dengan masyarakat, dan mengharamkan banyak sekali ke-biasaan yang sudah mendarah daging pada diri mereka, yang sebenarnya kebiasaan itu tidak bertentangan dengan agama.

Ada baiknya saya sebutkan, bahwa salah satu di antara yang menyebabkan para pemuda yang bergabung dengan mazhab wahabi menderita ialah bahwa ada kebiasaan di desa kami, dimana para pemudanya biasa duduk-duduk di atas hamparan pasir yang bersih di saat malam-malam bulan purnama, di mana mereka menghabiskan malamnya dengan mengobrol. Saat itulah merupakan satu-satunya kesempatan bertemu bagi para pemuda desa setelah bekerja sepanjang had di ladang dan tempat-tempat kerja lainnya. Kini pemimpin mereka melarang perbuatan itu dan mengharamkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah saw telah mengharamkan perbuatan duduk-duduk di atas jalan. Padahal tempat-tempat tersebut tidak terhitung jalan. Kedua, dan ini merupakan masalah seluruh orang wahabi, yaitu bahwa setiap orang dari mereka dalam waktu yang singkat dan dengan ilmu yang sedikit telah menjadi seorang mujtahid yang berhak memberikan fatwa dalam masalah apapun. Saya masih ingat, pada satu hari saya duduk berdiskusi dengan salah seorang dari mereka mengenai banyak hal. Di tengah-tengah diskusi dia bangkit berdiri setelah mendengar azan Magrib di mesjid mereka. Saya katakan kepadanya, “Sabar, kita selesaikan dulu diskusi kita.” Dia menjawab, “Tidak ada lagi diskusi. Telah datang waktu salat, mari kita salat di mesjid.” Saya berkata kepadanya, “Saya salat di rumah”, meskipun biasanya saya selalu salat bersama mereka. Dia berteriak lantang, “Batal salat Anda.” Saya merasa heran dengan kata-kata ini dan sebelum saya sempat meminta penjelasan darinya dia telah berbalik dan pergi. Saya berkata kepadanya, “Sebentar, apa yang menyebabkan salat saya di rumah batal?”

Dia menjawab dengan penuh kesombongan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Tidak ada salat bagi tetangga mesjid kecuali di mesjid.'” Saya berkata kepadanya, “Tidak ada perselisihan di dalam keutamaan salat berjamaah di mesjid, namun ini bukan berarti hilangnya kesahan salat di selain tempat ini. Hadis di atas sedang menekankan keutamaan di mesjid, bukan sedang menjelaskan hukum salat di rumah. Adapun dalilnya ialah kita belum pernah melihat di dalam fikih disebutkan bahwa salah satu yang membatalkan salat ialah salat di rumah, dan tidak ada seorang pun dari fuqoha yang memberikan fatwa demikian. Adapun yang kedua, dengan hak apa Anda mengeluarkan hukum ini?! Apakah Anda seorang fakih?! Karena sulit sekali bagi seorang manusia untuk bisa memberikan fatwa dan menjelaskan hukum tentang permasalahan tertentu. Seorang fakih harus mempelajari seluruh nas yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dia harus mengetahui petunjuk perintah (dilalah al-amr) dan petunjuk larangan (dilalah an-nahy) di dalam nas. Apakah perintah menunjukkan kepada hukum wajib atau hukum mustahab, apakah larangan menunjukkan kepada hukum haram atau hukum makruh. Sungguh, agama ini amat dalam, maka selamilah dengan kehati-hatian.”

Tampak kegusaran pada wajahnya. Dia cemberut dan berkata, “Anda telah mentakwil hadis, dan takwil itu haram.” Lalu dia pun pergi.

Saya serahkan urusaan saya kepada Allah SWT dari manusia dungu seperti ini, yang tidak memahami apa pun.

Pikiran inilah yang menjadi penyebab kedua yang menghalangi saya menjadi seorang wahabi, meski pun saya Pernah terpengaruh dengan pikiran-pikiran mereka dan membelanya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s